Beige Cardboard PBR Texture (Copy)Memanfaatkan teknik tali temali untuk kerajinan unik, begitulah yang dilakukan oleh Wiwit Priyanti. Di tangan dinginnya, gulungan tali mampu ia sulap menjadi sebuah kerajinan seperti tas, dompet, hingga tirai untuk hiasan rumah. Karyanya pun telah melanglang buana hingga luar kota. Sebuah keranjang lebar berisi penuh dengan gulungan tali satin bernuansa emas terjajar rapi di ruang tamu kediaman pasangan suami istri (pasutri) Sujarwo dan Wiwit Priyanti di Desa/Kecamatan Besuki. Selain tali bernuansa emas, juga terdapat tali kur berwarna biru pastel dan putih. “Ini hasilnya jika sudah jadi, bisa untuk tas belanja sehingga tidak perlu menggunakan kantong plastik,” ujar Wiwit, sapaan Wiwit Priyanti sembari menunjukkan sebuah tas berukuran sedang yang sedari tadi digenggamnya. Wiwit merupakan seorang perajin tas dan dompet berbahan dasar tali. Dengan menggunakan teknik makrame atau tali temali, gulungan-gulungan tali aneka warna ini dapat disulap menjadi sebuah tas maupun dompet cantik. Sekilas tas hasil karyanya mirip dengan tas rajut, namun jika dicermati lebih detail keduanya jelas berbeda.

“Sekilas memang mirip, tapi berbeda sekali. Mulai dari pembuatannya saja sudah beda, rajut dengan jarum, kalau makrame ini benar-benar hanya tali temali saja dengan memperhatikan pola,” jelasnya. Wanita 35 tahun ini mengatakan, awal mengenal teknik makrame pada 2015 silam. Saat itu ketika menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) di Hongkong, ia kerap mengikuti pelatihan keterampilan. Saat itu ia mengikuti pelatihan pembuatan bros dan tas makrame berbahan tali kur dan tali satin. Setahun kemudian, sepulang menjadi PMI, Wiwit bertekad ingin mengembangkan hasil pelatihan makrame yang didapatnya ketika di Hongkong. Mulanya ia hanya membuat sebuah tas kecil yang digunakannya sendiri. Tak disangka tas hasil karyanya mendapat respon positif, terlebih ketika ia mengunggahnya di akun media sosial Facebook miliknya. “Saya pulang dari Hongkong itu juga membawa bahan-bahan benangnya. Di rumah saya praktikkan lagi membuat tas untuk saya sendiri. Rupanya banyak yang memberi komentar positif. Baru dari situ saya coba buat serius,”terangnya. Meskipun tampak serupa dengan teknik rajut, namun teknik makrame tergolong lebih mudah. Wanita kelahiran Malang 7 April 1985 ini mengatakan kunci dari teknik makrame adalah pada pola dan hafal hitungan simpul.

Sebab beda simpul tentu akan memberi pola yang berbeda. Sementara untuk jenis tali dapat memanfaatkan tali apa saja. Namun untuk tas maupun dompet ia sering menggunakan tali kur dan satin. Ini karena jenis tali tersebut tergolong lebih kuat. Untuk proses produksi, Wiwit mengaku dikerjakan sendiri olehnya sembari mengurus rumah tangga. Untuk menghasilkan tas kecil diperlukan 2 hingga 3 hari untuk pengerjaan. Sementara tas berukuran besar bisa memakan waktu hingga 1 minggu. Tak hanya membuat dompet dan tas, aneka gantungan kunci dan tirai berbahan makrame juga mampu dikerjakannya. Terlebih tirai makrame menjadi trend di kota besar. Utamanya untuk hiasan rumah dengan konsep desain Scandinavian dan modern minimalis. Untuk pemasaran, ibu dua anak ini mengandalkan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Whatsapp untuk promosi. Sementara penjualan karya miliknya tak hanya Tulungagung, namun juga luar kota. Seperti Cilacap, Surabaya, Banyumas, dan juga Malang. Ia berharap pasca pandemi ini geliat bisnis kerajinan tangan (handmade) seperti miliknya dapat kembali bergairah.

Our adventure starts in the late 80s, when the Italian ultras movement was experiencing a transitory period, filled with a particular ferment. New minor groups rise among almost all the organized ultras in Italy with the aim to take back the ? 10-15 years earlier. In many cases, these established groups seem also to have lost their initial vitality. Among all such attempts, IRRIDUCIBILI will be, no doubt, the more successful one. The group makes its debut at Olimpico on October 18th 1987, in a squalid Serie B? Lazio-Padova (it will finish 1-1), and follow the match from a famous spot, the mythical ?muretto centrale?, which was occupied, until then, by the Viking group. Many people, who in the previous years did much for Curva Nord, are called back to join the newborn group. During its first period, the group has some peculiar characteristics: a very few members, whose average age is quite high.

The name is original indeed, but what does it really mean? IRRIDUCIBILI expresses the will not to accept any compromise with all the realities that surrounded S.S. Lazio, and in particular with the ? TV networks and with the Lazio Clubs. There is the will to re-affirm the ultras mentality, the spontaneous support without any sectarianism and moralism; there is the will to change the Curva Nord? Eagles Supporters (worshipped by all the Lazio?s world), accused to have divided the Curva into sons and stepsons. It?s not by chance that Irriducibili travel in train for the away matches, in contraposition to ? Eagle?s coach?; and indeed, it is the youngsters who already used to follow Lazio away by train those who join the group first. Many of them will become really attached to the group, representing, for them, the revenge towards those who considered them sort of ? Summing up, the attempt is to create a new group which takes from the 70s, calling back to the ?